Memburu Sehat di Rumah Sakit Rakyat (1)

Rumah Sakit Iskak Tulungagung

Sepasang suami istri berjalan perlahan menyusuri anak tangga.Nafas mereka terlihat berat saat mengiringi ayunan kaki yang makin melambat.Perjalanan menuju ruang pengaduan di lantai dua Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Iskak Tulungagung terasa jauh bagi pasangan berusia senja ini.

Sugeng dan Suparti tak bisa menyembunyikan kesedihan saat menceritakan derita yang dialami putri bungsunya. Septian Devi, bocah perempuan berusia 10 tahun itu tak berhenti mengalami sesak nafas saat penyakitnya kambuh, meskipun baru saja menjalani pengobatan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya, Februari 2017 lalu. “Anak saya sempat dioperasi di sana, tapi tak lama kemudian kambuh lagi,” keluh Suparti, ibunda Devi saat mengadu kepada petugas Rumah Sakit Dr. Iskak di Jalan Wahidin Sudiro Husodo Tulungagung.

Suami istri asal Dusun Ngingos, Desa Campurdarat, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung ini tak pernah putus mengupayakan pengobatan putrinya. Berbagai cara ditempuh demi kesembuhan Devi agar bisa beraktivitas normal seperti teman sebayanya. Ikhtiar terakhir adalah membawa ke Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya dengan biaya sendiri alias tanpa bantuan pemerintah.

Sebagai ibu rumah tangga merangkap tulang punggung keluarga, Suparti merasa tak kuat memikul beban berobat yang mencapai angka Rp 50 juta. Penghasilannya berjualan makanan di kantin sekolah jauh dari angka itu. Apalagi sejak beberapa tahun terakhir suaminya tak lagi mampu bekerja. Di usianya yang mencapai 60 tahun, Sugeng harus meninggalkan pekerjaan mencari dan memecah batu.

Saat ditanya tentang penyebab penyakit anak keempatnya, Suparti dan Sugeng hanya menggelengkan kepala. Otak mereka tak mampu mencerna penjelasan dokter yang merawat anaknya dengan baik lantaran dijejali hutang yang makin menumpuk. “Kami berencana menjual rumah satu-satunya,” tambah Suparti.

Perempuan ini hanya tahu jika beberapa hari terakhir Devi kembali mengalami sesak nafas. Hal ini memupus harapannya untuk sembuh usai keluar dari ruang perawatan di Rumah Sakit Dr. Soetomo empat bulan lalu. Rumah sakit milik Pemerintah Propinsi itu menerima Devi sebagai pasien rujukan dari Rumah Sakit Bhayangkara Tulungagung.

Kini setelah penyakit sesak Devi kembali kambuh, mereka melarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Iskak Tulungagung. Sugeng dan Suparti berharap mendapat keringanan berobat dari rumah sakit milik pemerintah daerah ini. Apalagi petugas rumah sakit di Instalasi Gawat Darurat telah dengan cepat memberikan pertolongan kepada putri mereka tanpa prasyarat apapun. “Kemana lagi kami harus meminta bantuan,” ujar Sugeng menghiba.

Tak bertepuk sebelah tangan, petugas ruangan tempat Devi dirawat dengan sigap mengantarkan orang tua miskin ini ke ruang pelayanan usai menerima keluhan biaya berobat. Dengan telaten Bagian Humas RSUD Dr. Iskak, Muhamad Rifai didampingi seksi monitoring pelayanan mengorek informasi terkait latar belakang ekonomi mereka serta memberikan penjelasan tentang prosedur pemberian bantuan. “Bapak Ibu punya uang berapa di rumah. Silahkan dibayar semampunya, sisanya biar kami yang menanggung,” kata Rifai yang diikuti tatapan cerah Sugeng dan Suparti.

Rifai menjelaskan, mengorek keterangan terkait latar belakang pasien adalah bagian dari verifikasi pemberian keringanan biaya berobat. Dalam tahapan ini petugas rumah sakit akan mencari tahu kesulitan pasien, termasuk kemampuan bayar mereka. Sebisa mungkin petugas memfasilitasi untuk memaksimalkan sumber daya pasien sendiri, seperti kemungkinan bantuan keluarga dan kerabat mereka. Hal ini untuk memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran dan tidak menyasar pasien mampu yang pura-pura miskin.

Tak berhenti di situ, usai menyelesaikan sesi wawancara, petugas akan mendatangi rumah pasien untuk melihat langsung kondisi sosial ekonominya. Jika kondisinya benar-benar tidak mampu, dan dipastikan pasien tersebut tak terjaring program Jaminan Kesehatan Masyarakat Daerah (Jamkesda) maupun Jamian Kesehatan Nasional (JKN), maka Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Iskak bisa memberikan keringanan dan bahkan benar-benar membebaskan biaya pengobatan hingga seratus persen. “Intinya tidak boleh ada warga Tulungagung yang tak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan hanya karena tidak mempunyai uang untuk berobat,” terang dr. Supriyanto, Sp. B direktur RSUD dr. Iskak Tulungagung, Jawa timur.

Kirim Pesan: