Tentang Kami

Dr. Iskak

Pada jaman penjajahan kolonial belanda masyarakat Tulungagung berobat kepada dukun atau orang yang dianggap pintar untuk menyembuhkan orang sakit. Melihat kenyataan bahwa di Tulungagung belum ada Balai Pengobatan/Rumah Sakit maka pada tahun 1917 dokter Soeleman, seorang dokter lulusan dari belanda, mengajukan ijin kepada Inspektur Kesehatan Kolonial Belanda di Surabaya untuk mendirikan Rumah Sakit di Tulungagung. Pemerintah kolonial Belanda memberikan ijin pendirian Rumah Sakit di Tulungagung. Pada tahun 1917 pula berdirilah Rumah Sakit Pemerintah Belanda di Tulungagung. Lokasi Rumah Sakit berada di jalan Pahlawan Tulungagung (Lokasi Rumah Sakit lama). Dokter Soeleman langsung diangkat menjadi pimpinan rumah sakit.

Meskipun kondisi rumah sakit pada waktu itu masih sederhana, namun dapat menangani masyarakat yang terkena musibah dengan memberikan pengobatan seadanya. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari, Dokter Soeleman dibantu oleh Dokter Vaers, seorang dokter berkebangsaan Belanda. Pada tahun 1928 Dokter Soeleman dipindahkan ke jakarta. Pimpinan rumah sakit digantikan oleh Dokter Vaers. Dokter Vaers memimping rumah sakit sampai dengan wafat pada tahun 1939, pimpinan rumah sakit selanjutnya diserahkan kepada Dokter Roestam.

Sekitar bulan maret 1942 jepang mulai masuk ke wilayah Tulungagung. Gedung rumah sakit dijadikan sebagai markas pemerintah jepang di Tulungagung. Kegiatan rumah sakit praktis berhenti total, semua dokter dan pegawai rumah sakit diperintahkan untuk meninggalkan tempat kerja dan mengungsi keluar Kabupaten Tulungagung. Namun pada bulan Agustus 1942 gedung rumah sakit yang semula menjadi markas pemerintah jepang dikembalikan fungsinya menjadi rumah sakit.Dokter Sudewo menjadi pimpinan rumah sakit menggantikan Dokter Roestam. Tahun 1945 pimpinan rumah sakit beralih dari Dokter Sudewo ke Dokter M. Salih. Dokter M. Salih sendiri adalah seorang dokter swasta lulusan dari perguruan tinggi Belanda.

Pada akhir bulan Desember 1948 R. Moechtar Prabu Mangkunegoro, Bupati Tulungagung pada waktu itu, menunjuk Dokter Iskak sebagai pimpinan rumah sakit. Dokter Iskak adalah Dokter kelahiran Tulungagung lulusan Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta. Karena Kota Tulungagung diduduki belanda pada waktu agresi militer belanda (akhir tahun 1948 s/d tahun 1949), seluruh pasien rumah sakit dan pegawai rumah sakit beserta keluarganya diungsikan keluar kota. Selama tahun 1949, rumah sakit mengalami perpindahan sebanyak 9 kali yang akhirnya menetap di dekat pantai Sine.

Setelah tercapainya perdamaian dengan belanda pada akhir tahun 1949, rumah sakit dikembalikan ke dalam kota Tulungagung. Dokter Iskak tetap di tunjuk sebagai pimpinan Rumah Sakit.

Kondisi Rumah Sakit Tahun 1950

Setelah pengakuan kedaulatan, hambatan yang dihadapi rumah sakit berupa keterbatasan dana, sarana dan prasarana. Pada waktu itu pengadaan peralatan medis, obat-obatan serta bahan makanan bagi pasien yang opname hanya diberikan 1 kali dalam satu tahun. Kekurangannya harus diusahakan sendiri oleh pihak rumah sakit.

Karena kondisi masyarakat yang sangat memprihatinkan, sehinga tidak mungkin untuk mengharapkan pemasukan dana dari pasien. Dengan ijin bupati Tulungagung, lahan kehutanan digunakan sebagai tanah pertanian. Dokter Iskak melakukan kerjasama dengan masyarakat sekitar rumah sakit melakukan penanaman padi dan jagung menggunakan metode tumpangsari. Dengan cara tersebut kebutuhan pangan 200 orang yang pegawai rumah sakit beserta keluarganya dan pasien bisa diatasi.

Selain kerjasama dengan masyarakat sekitar, rumah sakit juga melakukan penyembelihan sapi sendiri. Daging sapi tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan lauk pauk pasien, sebagian dagingnya dijual ke masyarakat umum. Untuk menambah pemasukan keuangan, rumah sakit juga membuat sabun yang bahannya dibuat dari abu dan minyak kelapa.

Pada masa itu mobil ambulance/jenazah tidak tersedia, sehingga semua pengangkuatan pasien dilakukan dengan ditandu/berjalan kaki. Sementara obat-obatan yang tersedia dirumah sakit hanya Solfadiase, Kinine dan Perm Kalic.